Hati merintih. Jiwa menangis. Namun jasad... Langsung tiada endah. Nafsu memperdaya akal. Jasad tetap terus bodoh menurut. Bagai segala yang diperkata, dijanji selama ini sekadar sampah jalanan yang layaknya sekadar diinjak, diludah.
Aku memohon agar tolong jangan kerapuhan ini luluh. Jangan luluh. Biar utuh.
Sekian.
No comments:
Post a Comment